Showing posts with label Business. Show all posts
Showing posts with label Business. Show all posts

Segmentasi Diferensiasi Kyai

Zaman dahulu, kita hanya mengenal filsafat sebagai induk seluruh ilmu pengetahuan. Mother of knowledge.Tokoh-tokoh seperti Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, Khawarizmi, dan tokoh2 baheula dikenal sebagai ahli disegala bidang. Mulai politik, pengetahuan alam, biologi, seni, social budaya, hingga hukum. Namun zaman terus berubah. Tuntutan kompleksitas pengetahuan memaksa kita menggolongkan pengetahuan menjadi kamar-kamar yang lebih kecil.

Pengetahuan mengalami spesialisasi. Pengelompokan menjadi sub-bagian yang lebih spesifik. Ilmu pengetahuan alam digolongkan fisika, kimia, biologi (SMA bangettt), atau ilmu social masih bisa dibagi lagi menjadi ekonomi, politik, antropologi, sosiologi, gigologi (zzzzzzz) dan masih banyak lainnya. Lantas apa hubungannya dengan Ustadz yang ahli agama? Yang jelas bukan hubungan intim (astaghfiruloh kakak…), atau hubungan kelamin (inget puasa kakak…). Bukan juga hubungan *&*&#*@ (sorry terpaksa disensor).

Marketing DakwahCoba antum perhatikan televisi., coba perhatikan televisi atau jalan2 ke toko buku. Tapi jangan toko buku. Kita akan menemukan sebuah spesialisasi dakwah. Dalam artian, ustadz zaman sekarang memiliki kekhususan bidang dakwah yang digeluti.

Yusuf Mansur terkenal dengan anjuran sedekah. Abu sungkan dengan terapi sholat khusyu’. Quraisy Shihab konsisten dengan tafsir qur’an. Ary Ginanjar dengan ESQ untuk kalangan eksekutif. Arifin Ilham dengan majelis dzikir yang mengharu-biru. Uje ustadz Jeffry dengan gaya gaul dan bintang iklannya, atau Aa Gym dengan anjuran poligaminya (kalo ini Cuma bercanda hehehe.. sorry A’).

Trennya apa: Sudah ada diferensiasi dalam “memasarkan” dakwah!!! Ustadz-ustadz ngetop zaman sekarang lebih terfocus pada salah satu aspek dalam islam, menciptakan diferensiasi dan nilai tambah, serta “memasarkan”-nya dengan sangat baik. Apakah salah? Tentu tidak. Toh, dakwah itu perlu pemasaran!. Dakwah itu artinya panggilan. Iklan itu juga dakwah. Karena berasal dari bahasa arab I’laan yang berarti pengumuman.

Segitiga PDBMenjadi Da’I ngetop hampir seperti menjadi artis. Ia harus mampu menghibur dan membuat pendengar terkesan. “Konsumen” (dalam hal ini jamaah) juga mengalami segmentasi. Ibu-ibu lebih doyan dengan gaya “Mamah curhat donk…”, atau yang suka melambai-lambai, “jamaaaahhh… ooh… jamaahhhh”. Yang dimongin ya masalah rumah tangga dan kelakuan bejat suami.

Sedangkan segmen remaja lebih sreg dengan model ustadz gaul dan ganteng lengkap dengan nyanyi-nyian dan pertanyaan standar sejuta zaman: “Bagaimana hukum pacaran dalam Islam???”. Kadang-kadang ada juga yang tanya bahasa arabnya I love U. Biar jadi pacaran syariah katanya. Ada-ada aja. Haha.

Sementara kalangan eksekutif paruh baya ada yang lebih menyukai pendekatan klasikal spiritual. Ceramah di hotel berbintang. Pake sound system megah. Visualisasi wah. Ada nangis-nangisnya segala. Ga tau nangis beneran atau nangis karena udah bayar mahal-mahal dan ternyata ngerasa biasa aja.


Jika Anda sedang ikutan Pildacil (Pemilihan Dai Licik :p) saya sarankan untuk menciptakan segitiga PDB (Positioning, differensiasi, dan brand) Anda sendiri. Yang unik, otentik, dan sukar ditiru. Sedikit nyontek teori marketing, positioning adalah citra yang ingin Anda ciptakan di benak jamaah. Diferensiasi adalah pembeda, apa yang membedakan Anda. Sedangkan brand adalah “merk” atau nama yang ingin Anda jual.

Contohnya Yusuf Mansur. Positioning: ustadz sedekah. Diferensiasinya jelas: ceramah pake humor dan testimony pelaku sedekah. Hasilnya, brand ustadz yusuf Mansur ahli sedekah. Inget sedekah, inget Yusuf Mansur.

Kyai Kampung
Berbeda dengan ustadz gaul dan ngetop di layar kaca, selalu ada tempat untuk “kyai kampung” di hati saya. Pembela agama Allah yang sesungguhnya. Saya masih mengingat jasa Pak Abdillah dan Bp jahar, guru ngaji saya dulu. Mereka tidak dibayar. Tidak juga terkenal. Mereka hanya guru ngaji biasa di musholla dekat rumah saya.

Saya masih ingat betul ketika diperkenalkan dengan si alif, ba, ta, dan rombongannya. Merangkai kalimat. Menghapalkan ayat. Lalu ada pelajaran tentang sholat. Mencari arah kiblat.

Mereka menyampaikan Islam tanpa “diferensiasi” macam-macam. Islam ya Islam. Lengkap dengan akidah, syariah, dan muamalah. Ada rukun agama, ada rukun iman. Ada surga, ada neraka. Ceramahnya biasa saja. Tidak membuat saya tertawa. Atau menangis tersedu-sedu didalam dada. Semua disampaikan dengan sederhana. Tapi justru semakin mengena.
Karena sesuatu yang disampaikan dari hati, akan sampai ke hati.
Semoga amal mereka dibalas di hari akhir nanti.

Kreativitas VS Orisinalitas

Seyakin apa Anda untuk mengatakan bahwa ide Anda murni berasal dari pemikiran Anda sendiri, tanpa ada kontribusi dari apa yang pernah dibaca atau didengar? Mungkin tanpa sadar apa yang pernah diri kita pelajari dari sana sini meresap di alam bawah sadar, bergabung dengan ide-ide lain, lalu menghasilkan ide yang baru. Ide baru tersebut disebut kreativitas atau orisinalitas?

Apa batasannya?

Archimedes, orang yang menemukan berat jenis. Penemu gila ini mendapat ide saat masuk ke dalam bak mandi yang penuh air dan meluaplah air di bak tersebut kemudian dihitung volum yang tertumpah. Volum tersebut dibagikan dengan volum air untuk mengetahui berat jenis. Dengan cara yang sama ia membuktikan bahwa berat jenis mahkota akan lebih rendah daripada berat jenis emas murni apabila pembuat mahkota tersebut berlaku curang dan menambahkan perak ataupun logam dengan berat jenis yang lebih rendah. (intermezo: mungkin ada pertanyaan mengapa saya sering menggunakan teori yang berasal dari ilmu pasti sebagai pembanding, jawabannya: karena ilmu tersebut pasti!). Teori berat jenis yang orisinil?

KFC atau ayam goreng Suharti? Keduanya enak dengan cita rasa yang berbeda, keduanya orisinil, tapi lebih suka yang mana yah tergantung masing-masing lidah. Nggak apple to apple karena walaupun sama-sama ayam tapi berbeda bumbu dan cara pengolahan? Cara pengolahan membuat ayam yang sama-sama ayam mentah menjadi ayam matang yang berbeda. Apa ini, jadi bumbu dan cara pengolahan adalah orisinalitas atau kreativitas?

Filsafat Gila, brand yang bagus kan untuk mendeskripsikan pada orang yang baru saja mendengar/membaca frasa tersebut "Filsafat gila": pasti ada hubungannya dengan  Filsafat  dan gila? Coba saja kalau 2 orgil itu memutuskan namanya Dodolfats, apa yang ada di pikiran Anda? Kalau  Filsafat  Mesum sih, jangankan nulis (mungkin) liat aja saya udah ogah *maklum ntar ada kamera yang lagi shoot saya ngirain saya liat konten mesum lagi... hahaha... memang saya dewan ya? Becanda mulu nih... hahaha... maksud saya, gimana kalau cuma brand-nya saja berbeda tetapi kontennya sama:  Filsafat  Gila, Dodolfats,  Filsafat  Mesum. Jadi, brand kreativitas dan konten orisinalitas? Tapi kontennya nggak muncul serta merta loh, berasal dari gabungan informasi yang disatu-satukan dengan bahasa sendiri. Kreativitas itu adalah orisinalitas?

Renren, produk yang lahir dari pengkondisian sistem tirai bambu China yang tetap ingin sejalan dengan perkembangan dunia. Renren itu Facebook khusus China, yang miripppppp banget (katanya) sama Facebook *nggak tau memang nggak bisa akses atau inet saya yang lemod abis, penasaran juga sama tampilan Renren. Murni kreativitas?

Entahlah, saya sih secara common sense aja bilang yang nggak orisinil itu  yang niru banget gitoW.
Kreativitas vs Orisinalitas

Yang orisinil yang terbaik? Mengapa jejaring pertemanan Friendster nggak dibuka lagi setelah ada Facebook? Hmm... ini contoh ayam ya, jejaring pertemanan sih sama (bahan mentah sama), tetapi fitur beda (bumbu beda). Menurut saya Facebook lebih unggul karena kita benar-benar disentuh kehidupannya, kalau jaman Friendster dulu sih sekedar nulis testimoni untuk dapat testimoni, right?

Bagaimana bila sudah berkaitan dengan uang? Misalnya hari ini kita usaha warteg, lumayan rame, untungnya sih kalau kita proyeksikan 1 bulan balik modal. Eh, besoknya tetangga kita buka warteg, menunya persis sama hanya dia melakukan branding dengan spanduk gede warna ngejreng "Warteg G403L" dan gara-gara itu semua yang kemaren beli di warteg kita sekarang ke warteg tetangga! Parahnya setelah kita marah-marah ke warteg tetangga dia malah bilang: lo sih nggak kreatif!

Jadi, apa yang paling penting: orisinalitas atau kreativitas? Atau sebodo amat apa beda keduanya, yang penting ide tersebut menarik dan diinginkan oleh pasar sehingga bisnis kita punya going concern?

Cara Cerdas Analisa Keputusan Melalui Statistik GOOGLE INSIGHTS

Sebenarnya Aku bingung dengan judul yang Pas "untuk postingan kali ini" Jadi Topik nya adalah melihat peminat, pengguna, dari data yang di rangkum oleh GOOGLE.
Cara seperti ini lebih efektif menurut saya, karena sudah berdasarkan survey lapangan. . Tidak perlu mengetahui informasi dari teman dekat misalnya, atau katanya katanya.Hal itu umum menghasilkan opini yang berbeda,Hasil yang di tunjukan GOOGLE ini berdasarkan data kunjungan berdasarkan kawasan penulusuran istilah, grafik,etc.

Ambil Kasus Seperti ini : 
1. Seorang Mahasiswa ingin mengetahui di mana bisa menemukan teman se-JURUSAN yang banyak peminatnya.Agar mudah melakukan sharing
2. Pengusaha Warnet ingin mendirikan sebuah warnet, Pertimbangannya adalah di mana kawasan banyak konsumsi masyarakatnya yang tinggi penggunaannya
3. Lagi Bingung ingin membuka sebuah usaha apa di suatu tempat, misalnya daerah BALIKPAPAN.

Nah. . Dari beberapa contoh kasus seperti inilah menurut saya GOOGLE INSIGHTS bisa menjadi solusi, dan tentunya bukan hasil yang mutlak hanya pertimbangan, karena tidak semua masyarakat kita bisa mengoprasikan  komputer dan internet.

Cara yang saya maksud seperti berikut.

Langkah Awal MASUK GOOGLE INSIGHTS

Kemudian di penulusuran ketik "Informatika" Lihat gambar



Dan Hasil yang kita peroleh :
Jadi Maksudnya dari data tersebut kita bisa melihat Peminat terbanyak pengakses KEYWORD Informatika dari YOGYAKARTA, artinya di daerah tersebut tenaga ahli, mahasiswa banyak di sana dan hal itu sudah sangat umum di sana kalau berbicara bidang informatika

Contoh lagi dengan kata kunci "PERTAMBANGAN" dengan menggunakan Rentang waktu , dari tahun 2004 s/d 2012

Hasil nya dari Grafik pencarian
Dari hasil grafik menunjukan penurunan di setiap tahunnya,
hal ini bisa kita artikan kalau sektor pertambangan menurun (BAGUSLAH hentikan merusak lingkungan! :D)

Minat Kawasan Tertinggi

Mungkin seperti inilah contoh sederhananya, kalian bisa mencobanya sendiri dengan lebih kreatif.. Mudah dan sederhana kok. Hehe. . . Intinya cuma memainkan kata kunci dan harus bisa mengambil kesimpulan sendiri juga membuat ruang lingkup yang di inginkan. Contoh yang saya maksud dengan memainkan kata kunci dan mengambil kesimpulan :
Aku ingin membuka sebuah Toko komputer di Balikpapan, di pencarian pertama aku menuliskan keyword Toko Komputer Sub kawasan Balikpapan rentang waktu 2004/2012 hasilnya masih kosong atau tidak ada data. Lalu lanjutkan ke keyword Gadget hasilnya juga NOL lanjut ke keyword pemancing dengan mengetikan Jaringan Komputer hasilnya pun rendah. Kesimpulan ku informasi di wilayah ini masih minim. Itu artinya belum terlalu banyak terdapat Tenaga ahli atau pengajar di wilayah ini. Kemudian Masuk Ke Kata Kunci Ke-4 dengan menuliskan ACER ke-5 TOSHIBA. Dari hasil Statistiknya ternyata permintaan sangat tinggi. Tidak sebanding dengan Penawaran. Dan saya bandingkan lagi dengan Keyword Cantik, Sexy, Facebook. Hasilnya Luar biasa hampir semua penduduk mungkin mengaksesnya. Bahkan Istilah Penulusuran teratasnya mencapai 10 opsional. Hmmm...Kalau masih bingung dengan maksud aku, mohon maaf agak bermasalah mungkin dalam penjelasan dan penyusunan kata. :D.

GOOGLE INSIGHTS umumnya di gunakan oleh para webmaster untuk mensurvey trend kata kunci yang lagi meningkat  sebelum melakukan postingan di website mereka agar menjadi HOT di banjiri traffik. Yahh mungkin tujuan awal dari GOOGLE memang untuk membantu para webmaster ini. . Lama kelamaan Saya mlihat ini justru malah jadi UNIK seolah olah Output yang di hasilkan tidak lagi bertujuan sebagai penilaian kata kunci yang lagi trend dan Hot. Tetapi lebih kepada hasil kesimpulan pengkategorian sebuah wilayah atau negara berdasarkan minat masyarakatnya.

Semoga Bermanfaat. . Dan Jelas maksudnya Hehee

SURYA IRAWAN Pengebor Sumur Yang Berjaya Di Bisnis Interior

Setelah sukses menjalani usaha pengeboran sumur, Surya Irawan memutuskan diri merambah bisnis desain interior. Dengan modal awal Rp 80 juta, ia mendirikan bengkel furnitur untuk melengkapi bisnis interiornya. Dari bisnis ini, ia mengantongi omzet tidak kurang dari Rp 100 juta per bulan.
Perjuangan Surya membesarkan usaha pengeboran sumur tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses panjang untuk membesarkan perusahaan kecil warisan orang tuanya. Namun, Surya pantang menyerah dan terus berusaha.

Seiring berjalannya waktu, ia pun berhasil melalui semua kesulitan. Perusahaannya kini sudah jauh lebih besar dengan nilai aset mencapai Rp 1,2 miliar.

Namun, meski terbilang sukses, Surya tidak berpuas diri. Naluri bisnisnya tetap saja memanggil. Pada 2008, ia memutuskan melebarkan sayap usaha dengan merambah bisnis interior rumah, kantor, dan apartemen.

Surya memang jeli menangkap peluang bisnis. Ia melihat, bisnis interior memiliki prospek cerah di tengah pertumbuhan sektor properti saat ini. Terbukti, di tengah maraknya pembangunan perumahan, perkantoran, dan apartemen, permintaan akan jasa desain interior juga terus meningkat.

Saat terjun ke bisnis ini, ia hanya merogoh modal awal sebesar Rp 80 juta. Uang itu sebagian besar dipakai buat membangun bengkel furnitur yang memproduksi meja, lemari, dipan tempat tidur, rak televisi, rak buku, dan kitchen set. Dengan adanya bengkel furnitur ini, Surya ingin melengkapi jasa interiornya dengan menyediakan beragam jenis furnitur.

"Jadi, saya menge-set ruangan dan menyediakan mebel yang dibutuhkan sampai ruangan siap huni," jelas Surya.

Minat sejak SMA

Merambah bisnis interior tidak begitu berat bagi Surya. Jaringan pelanggan dari bisnis jasa pengeboran air sangat membantunya memasarkan bisnis barunya tersebut. Terlebih, Surya juga memang memiliki ketertarikan khusus di bidang interior rumah.

Minatnya terhadap desain interior tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Saat itu, ia sering menemani orang tuanya melakukan pengeboran sumur tanah di perumahan-perumahan mewah.

Saat ini, Surya lebih banyak mengincar pasar apartemen ketimbang perumahan dan perkantoran. Maklum, kata dia, di apartemen ia sudah memiliki pelanggan dan jaringan cukup luas.

Tarif jasa desain interior dan pengadaan furnitur untuk apartemen sebesar Rp 50 juta per ruangan. Harga masih bisa berubah, tergantung permintaan pelanggan. Sementara untuk desain interior perumahan dan perkantoran, ia memberi harga mulai dari Rp 40 juta sampai Rp 50 juta.

Terhitung, dalam sebulan, Surya mendapatkan rata-rata dua kali permintaan pemasangan interior apartemen. Dari situ, ia mengantongi omzet sebesar Rp 100 juta dengan laba bersih 20%.

Perluasan Uni Eropa Dalam Perkembangan Intervensi terhadap Peran Suatu Negara

Uni Eropa merupakan perkumpulan negara-negara yang memiliki suatu kesepakatan untuk saling bekerja sama. Meskipun terdapat perbedaan-perbedaan latar belakang antar negara anggotanya, Uni Eropa telah berhasil menjalankan sebuah pasar tunggal bersama. Hal ini telah memberikan manfaat yang sangat besar bagi negara anggota Uni Eropa dalam hal penghapusan antrian pada perlintasan perbatasan perdagangan antar negara Uni Eropa, hilangnya batas terkait teknis kegiatan perdagangan, dan juga pembukaan pasar yang baru untuk kontrak umum dan lain sebagainya. Sejak dibentuk, Uni Eropa menjadi magnet yang menarik anggota-anggota barunya. Setiap negara Eropa dapat bergabung dengan syarat negara tersebut memiliki kehidupan demokrasi yang stabil dan menjamin penerapan hukum, hak asasi manusia, serta perlindungan terhadap kaum minoritas. Negara yang akan menjadi anggota juga harus memiliki perekonomian pasar yang berjalan baik dan kelengkapan pengelolaan negara yang mampu menerapkan hukum-hukum Uni Eropa. Uni Eropa sendiri telah memberikan kontribusinya terhadap peningkatan hak asasi manusia, dukungan pada proses demokratisasi, tata pemerintahan yang baik, perlindungan lingkungan, liberalisasi perdagangan, dan penguatan dimensi kultural melalui peningkatan dialog tentang masalah politik, ekonomi, dan sosial yang dilaksanakan untuk kepentingan bersama.

Adapun terkait dengan perluasan keanggotaan Uni Eropa disatu sisi akan memberikan dampak positif sekaligus dampak negatif disisi yang lainnya. Dampak positifnya yaitu tentu akan memperluas akses perdagangan suatu negara dan dengan adanya keseragaman perangkat kebijakan dalam aspek tarif dan non-tarif serta prosedur administrasi akan memberikan keuntungan dan kemudahan bagi sebuah negara dengan negara mitra dagangnya. Akan tetapi negatifnya, perluasan Uni Eropa akan memberikan konsekuensi bahwa negara anggota akan menerapkan kebijakan tarif dan non-tarif yang saat ini berlaku di Uni Eropa sesuai prinsip Common Comercial Policy yang harus ditaati dan diterapkan. Selain itu bagi negara baru tentu akan memfokuskan pada karakteristik negaranya terkait standar, keamanan, kesehatan, lingkungan, dan tanggung jawab sosial.

Perkembangan Uni Eropa saat ini bisa dikatakan dalam suatu kondisi krisis. Rancangan konstitusi Eropa ternyata tidak didukung oleh semua negara anggota. Hal ini bukan karena integrasi Eropa yang tidak diinginkan melainkan sebuah bentuk protes terhadap kepentingan politik atau elit politik nasional. Intinya dapat dikatakan bahwa Uni Eropa sedang mengalami sebuah krisis legitimasi karena adanya demokrasi terbatas. Maksudnya adalah bahwa adanya Eropanisasi proses pembuatan kebijakan publik cenderung teknokratis dimana rakyat kehilangan kontrol terhadapa berbagai kebijakan yang mana kebijakan tersebut menentukan kehidupan mereka.

Perkembangan Uni Eropa yang sangat pesat merupakan sebuah fenomena yang sangat menarik. Dari sebuah kelompok kecil enam negara menjadi sebuah entitas menyerupai negara. Perkembangan kelembagaan Uni Eropa telah menyebabkan mekanisme pembuatan kebijakan tidak lagi mementingkan aspek demokratis yang melibatkan rakyat namun lebih didasarkan pada mekanisme teknokratis (de-politisasi politik).

Selanjutnya terkait dengan adanya perluasan Uni Eropa telah memunculkan suatu fenomena penting yaitu mengenai tingkah laku para aktor. Poin pentingnya yaitu bahwa definisi aktor tidak lagi mencerminkan dan mengedepankan demokrasi yang melibatkan keikutsertaan publik namun lebih condong pada kepentingan elit semata. Kemunculan para aktor diluar aktor politik yang semakin dominan perannya telah mencerminkan suatu perubahan dari hakekat kekuasaan, tidak ada lagi gerakan sosial, negosiasi, dan proses kompromi dari berbagai kepentingan yang berbeda ataupun melibatkan opini publik dalam pengambilan suatu keputusan.

Salah satu bentuk perluasan Uni Eropa adalah melalui adanya regional trade agreements (RTAs). Saat ini dari segi jumlah dapat dikatakan bahwa RTAs telah mengalami suatu perkembangan yang sangat cepat. Namun kemudian yang terjadi adalah kekhawatiran terhadap melemahnya sistem perdagangan dalam kerjasama regionalisme. RTAs menjadi semacam upaya dasar ekonomi dan politik yang lebih luas untuk ditingkatkan sebagai suatu kerjasama regional diluar agenda multilateral. RTAs sendiri sebenarnya tidak hanya memiliki keuntungan namun juga efek negatif. Keuntungan adanya RTAs itu sendiri adalah sebagai sebuah wadah untuk dialog dan kerjasama dalam suatu kawasan dan juga untuk memperkuat hubungan politik antar negara dalam sebuah kawasan. Namun tentu hal positif dari RTAs tidak mengurangi adanya potensi bahaya atau negatif dari RTAs itu sendiri yaitu adanya suatu prasangka dan adanya potensi masalah yang timbul dari kurangnya koordinasi akibat adanya tumpang tindih perjanjian yang berimplikasi pada suatu aspek konsistensi sebuah negara terhadap kesepakatan atau perjanjian kerjasama. RTAs itu sendiri memfokuskan pada beberapa permasalahan terkait seperti hak asasi manusia dan masalah terorisme. RTAs menjadi suatu “kewajiban” yang harus dilakukan para aktor atau negara untuk mendapatkan jaringan pasar yang luas dan kemudahan akses perdagangan.

Selanjutnya yang dapat menjadi suatu analisis dan kesimpulan yang dapat diambil adalah mengenai bagaimana aspek norma politik dan redefinisi tingkah laku aktor terkait adanya perluasan Uni Eropa. Perluasan Uni Eropa secara tidak langsung telah menunjukkan suatu perkembangan dari sebuah organisasi. Adanya perluasan tersebut menunjukkan bahwa adanya Uni Eropa memang dipandang menarik oleh para anggotanya atau negara-negara anggota baru untuk bergabung didalamnya dengan berbagai macam kepentingan yang dimiliki masing-masing. Namun yang perlu diperhatikan disini adalah mengenai aspek dasar dari adanya perluasan itu sendiri. Aspek dasar tersebut yaitu adanya sebuah bentuk intervensi. Hal ini sekaligus menjelaskan judul yang saya gunakan dimana adanya pekembangan Uni Eropa yang semakin luas anggotanya telah menggambarkan sebuah bentuk intervensi yang semakin dalam dari suatu organisasi terhadap suatu negara. Hubungannya dengan rezim internasional adalah Uni Eropa disini menjadi salah satu bentuk rezim internasional yang harus ditaati oleh para negara anggotanya. Intervensi disini memiliki implikasi yang bisa dipandang positif sekligus negatif. Positif ketika rezim Uni Eropa tersebut memiliki pengaruh baik terhadap kemajuan perdagangan namun menjadi negatif ketika intervensi yang diberikan berada dalam skala yang besar dan meluas karena hal itu berarti suatu negara mau tidak mau harus taat pada aturan atau kesepakatan yang ditawarkan dan diberikan mengingat negara posisinya adalah sebagai anggota dari rezim itu sendiri.

Perluasan Uni Eropa ini merupakan sebuah internalisasi politik yaitu terkait dengan adanya suatu kesepakatan bersama yang harus ditaati dan menjadi karakteristik bersama. Padahal adanya perluasan Uni Eropa sendiri telah menggeser peran publik dimana opini masyarakat tidak lagi dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan atau dengan kata lain perluasan Uni Eropa menyebabkan proses demokrasi menjadi terbatas karena peran dan pengaruh para elit politik disini lebih besar. Selain itu sesuai dengan pandangan realisme dalam memandang konteks dasar dari integrasi ekonomi dalam sebuah regionalisme yaitu integrasi pasar nasional ke pasar regional berimplikasi pada menurunnya otonomi negara dalam pembuatan kebijakan pembangunan karena harus menyesuaikan kebijakan nasional dengan aturan regional. Sehingga dengan adanya Uni Eropa yang semakin meluas dari segi keanggotaan dan jaringan wilayahnya maka tentu hal itu telah membawa pengaruh yang besar bagi internal negara dalam bentuk intervensi politik melalui kebijakan-kebijakan bersama maupun bentuk kesepakatan kerjasama lainnya. Selain itu juga ada perubahan dalam perilaku aktor yang berkaitan dengan pengimplementasian sebuah proses demokrasi dalam pengambilan keputusan ataupun kebijakan.

Sumber:
Annegret, Bendiek. 2006. Cross-Pillar Security Regime Building in the European Union: Effects of the European Security Strategy of December 2003. European Integration online Papers.
Hafner, Emilie M. n. d. The Power Politics of Regime Complexity: Human Rights Trade Conditionality in Europe. Princeton University.
Vlcek, William. 2007. Hitting the Right Target: EU and Security Council pursuit of Terrorist Financing. University of London. London

Rahasia Sukses Grup Ciputra di Mancanegara

Grup Ciputra berekspansi hingga ke mancanegara, mulai dari Vietnam, Kamboja, India, hingga ke China. "Pak Ciputra menginginkan perusahaan ini melebarkan sayap ke luar negeri," kata Budiarsa Sastrawinata, Managing Director Grup Ciputra .

Budiarsa Sastrawinata, yang juga menantu Ciputra, memimpin sub-holding 1 Grup Ciputra yang menangani Citra Garden City di Jakarta Barat, CitraGrand City di Palembang, dan proyek kota baru di Hanoi (Vietnam), Phnom Penh (Kamboja), dan Shenyang (China). Grup Ciputra sejak lima tahun terakhir ini terbagi dalam tiga sub-holding. Selain Budiarsa yang menangani sub-holding 1, juga ada Harun Hajadi yang memimpin sub-holding 2, dan Candra-Cakra yang membawahi sub-holding 3.


"Dengan adanya sub-holding, masing-masing sub- holding secara manajemen lebih independen. Dengan kejelasan portofolio, tak ada gesekan. Masing-masing sub-holding berjalan secara harmonis. Setiap orang punya style masing-masing. Tak ada benar atau salah,"

Lahir di Jakarta, 10 Agustus 1955, Budiarsa Sastrawinata menyelesaikan pendidikan TK-SMA Regina Pacis (mulai dari sekolah yang berlokasi di Theresia - Budi Kemuliaan sampai Slipi). Budiarsa sempat mengenyam pendidikan di Universitas Trisakti Jakarta selama satu tahun, tapi setelah itu Budiarsa langsung belajar di Fakultas Teknik Sipil, Universitas Plymouth, London, Inggris (1976-1981). Sedangkan Rina Ciputra kuliah di Los Angeles, Amerika Serikat dan Selandia Baru. Budiarsa dan Rina sama-sama sekolah di Regina Pacis Jakarta. 

Kembali ke Indonesia tahun 1981, Ciputra mendirikan perusahaan Citra Habitat (cikal bakal Ciputra Development). Grup Ciputra adalah perusahaan properti yang ditangani keluarga Ciputra, setelah anak-anak Ciputra sudah kembali belajar dari luar negeri. Proyek pertamanya adalah Citra Garden City di Jakarta Barat. Proyek perumahan ini cikal bakal perusahaan yang kini bernama Ciputra Development. Yang in-charge di Citra Garden adalah Rina, putri Pak Ciputra, yang juga istri Budiarsa. 

"Pak Ciputra mendirikan perusahaan ini karena melihat anak-anak dan menantu sudah waktunya bekerja. Masuk ke Grup Jaya atau ke Metropolitan, susah. Jadi Pak Ciputra mendirikan perusahaan keluarga ini," kata Budiarsa. 

Awalnya, Budiarsa membantu Pak Ci mengembangkan CitraGarden di Kalideres. "Waktu melihat lahan calon lokasi, saya dan Pak Ci jalan-jalan di pematang sawah. Dulu kan lokasi CitraGarden masih sawah. Jalan tol Bandara saja belum jadi. Sempat tanya Pak Ci, apa nggak salah pilih lokasi ini karena kan lokasinya jauh sekali dari pusat Jakarta? Waktu itu bandara pun belum beroperasi. Tapi di sinilah saya belajar banyak dari Pak Ci, bagaimana visi Pak Ci jauh ke depan," cerita Budiarsa. 

Budiarsa sendiri pada tahun 1983 sudah mulai menangani cikal bakal BSD. Pada Januari 1984, akte pendirian BSD baru bisa ditandatangani. Dan sejak itu, Budiarsa bekerja penuh mempersiapkan kota baru Bumi Serpong Damai. "Tahun 1983, saya bolak-balik bertemu pemegang saham BSD lainnya dari Grup Salim dan Grup Sinarmas. Jadi persiapannya lima tahun, dan baru 16 Januari 1989, BSD diluncurkan oleh Mendagri (waktu itu) Rudini dan Gubernur Jawa Barat (waktu itu) Yogie S Memed. Waktu itu BSD merupakan proyek pertama yang berskala luas sehingga saya merasa harus belajar soal kota baru," jelas Budiarsa, yang juga Presiden INTA, asosiasi kota baru dan peremajaan kota seluruh dunia. 

Kutipan wawancara khusus dengan Budiarsa Sastrawinata, Managing Director Grup Ciputra 

Bagaimana Grup Ciputra membangun proyek kota baru di luar negeri dan meyakinkan mitra-mitra di luar negeri? 
Tantangan membangun kota baru di luar negeri lebih besar dibandingkan membangun properti di dalam negeri. Di Indonesia, banyak orang sudah mengenal nama Pak Ciputra dan brand Ciputra berkualitas baik. Tapi di luar negeri? Banyak yang belum tahu siapa Ciputra dan bagaimana produk propertinya. Ini tantangan. Saya ajak mereka datang ke Indonesia, melihat proyek-proyk Ciputra di sini.

Tahun 1992-1993, saya dan Agussurya, salah satu direktur di perusahaan ini sudah sudah keliling luar negeri, mencari kemungkinan membangun proyek kota baru. Pertama kali kami konsentrasi ke Vietnam karena kami sudah membangun hotel lebih dulu, Hanoi Horison Hotel yang beroperasi tahun 1997. 

Kami mengajukan izin membangun kota baru di Hanoi, Vietnam tahun 1994, Surat Keputusan Gubernur Hanoi ditandatangani 30 Desember 1996, namun kami baru menerima SK itu Februari 1997. Proses perizinan di Vietnam tidak mudah. Meskipun Gubernur Hanoi sudah menandatangani SK, namun kami tetap harus mempresentasi rencana kota baru di hadapan dua menteri dan juga ke Perdana Menteri. 

Visi Pak Ci waktu itu, Grup Ciputra harus melihat kesempatan ke luar negeri. Jadi Pak Ci minta lahan seluas- luasnya agar bisa membangun kota baru. Kami melakukan survei, dan lihat ada lokasi memungkinkan yang relatif kosong. Ada 300-400 hektar, itulah yang diproses. 

Pertama, mereka melihat Pak Ciputra. Mereka juga diundang lihat proyek-proyek di Indonesia, sehingga mereka yakin dan berani. Begitu kita terima SK, Indonesia dilanda krisis ekonomi tahun 1997 sehingga Grup Ciputra menahan diri. Hampir semua negara di Asia terkena dampak krisis ekonomi. Tapi kami bersyukur, izin dari Pemerintah Vietnam tetap diberikan kepada Grup Ciputra. Tahun 2003, setelah krisis berlalu, barulah kami membangun fisik di Hanoi. 

Kami membangun perumahan (landed house), apartemen, fasilitas sekolah internasional. Dan sekolah internasional terbesar di Hanoi memindahkan sekolah mereka ke kota baru yang kami bangun dan mengambil lahan seluas 9 hektar. Ini klop sekali dengan tagline Ciputra Hanoi International City. Dan penghuni dua menara apartemen di sana umumnya orang asing. 

Lokasi kota baru ini persis di tepi jalan tol, diapit dua jalan yang menuju bandara. Begitu keluar tol, langsung masuk ke proyek Ciputra Hanoi International City. Gerbang kota baru ini sama persis dengan gerbang Citra Raya di Tangerang. Gerbang yang persis sama seperti ini ada empat. Pertama di Citra Raya Tangerang, kedua di Ciputra Hanoi International City di Vietnam, ketiga di Kolkatta West International City (Calcutta) di India, dan keempat di Grand Phnom Penh International City di Kamboja. 

Ceritanya, kami ajak Gubernur Hanoi ke Citra Raya Tangerang. Dia lihat dan dia suka dengan gerbang seperti ini sehingga kami membangun gerbang serupa di Hanoi. 

Bagaimana Anda dan Grup Ciputra memutuskan membangun di kota-kota di luar negeri? Saya menangani pembangunan kota-kota baru, Ciputra Hanoi International City, Grand Phnom Penh International City, Kolkatta West International City (yang sudah dijual ke pengusaha India), dan Grand Shenyang International City. 

Sebelum menentukan membangun di Kolkatta, saya keliling India, dari New Delhi, Mumbai, Madras (sekarang Jenai), sampai Hyderabad. Dibandingkan New Delhi dan Mumbai, kota Kolkatta sangat terbelakang. Kolkatta (dulu disebut Calcutta) adalah ibu kota West Bengal, satu-satunya negara bagian di India, yang dipimpin penguasa dari partai komunis. Jadi kota ini paling terbelakang, namun jumlah penduduknya 13 juta. Kami melihat ini sebagai kesempatan. 

Dalam satu proyek properti ini, kami hanya butuh ribuan konsumen. Masak dari 13 juta penduduk Kolkatta, tak ada yang mampu membeli properti? Jadi itulah pola pikir kami ketika menjadikan Kolkatta sebagai target. Sama halnya kami melihat peluang di India dan China, yang jumlah penduduknya sangat banyak. 

Ketika memilih Hanoi, Pak Ci melihat ada kesempatan lain untuk mengembangkan kota baru di ibukota Vietnam ini. Kami sebelumnya sudah membangun hotel lebih dulu di kota ini. 

Sambil membangun kota baru di Hanoi, saya mencari peluang lain di dekat Vietnam. Kami dapat peluang lagi di Phnom Penh di Kamboja. Kami melihat potensi kota ini, apakah ekonominya berkembang atau tidak, bagaimana kondisi politiknya, jumlah penduduknya. Mengapa kami tidak memilih Vientianne di Laos? Karena jumlah penduduknya sedikit. Mengapa tidak memilih Myanmar? Karena sistem politiknya belum terbuka. Dan kami memilih Phnom Penh, Kamboja. Di sini, belum ada pengembang yang membangun kota baru. 

Sedangkan sebelum membangun kota baru di China, saya sudah berkeliling China, dari utara ke selatan, pada awal tahun 1993 lalu. Akhirnya kami memilih kota lapis kedua, yaitu Shenyang, ibukota Provinsi Liaoning, yang pernah menjadi ibukota China pada masa dinasti. 

Kami meneruskan kepeloporan Pak Ci, semua kota baru yang kami bangun di Vietnam, India, Kamboja, India, adalah yang pertama. Kami punya konsep yang jelas, potensinya besar, dan pemerintah setempat mendukung proyek kami. 

Pengalaman di negara berkembang itu mirip semua. Apalagi masih sama-sama Asia, yang kulturnya masih sama. Jadi kami punya bekal yang sangat berharga, sehingga kami bisa mengimplementasikan proyek serupa di negara lain. 

Walaupun baru, konsep kami jelas dan bisa diterima pemerintah. Garis pertama, untuk bisa dapatkan izin. Dengan penjelasan konsep dan track record Pak Ciputra, mereka bersedia memberi izin. Di samping konsep yang tepat, pasar yang tepat. Produk yang dibangun harus sesuai yang dijanjikan karena janji adalah utang yang harus ditepati. 

Kalau di luar negeri, track record kami bisa dilihat dari pemerintah setempat karena mereka bisa cek ke Indonesia. Tapi pasar kami orang sana. Jadi informasi harus dilakukan melalui media setempat. Begitu kami me-launching, kami tidak perlu iklan lagi karena mereka sudah lihat sendiri produknya. Dan memang, belum ada proyek kota baru sebelumnya seperti kami bangun. 

Saat ini kami sedang membuat bio-climate study untuk mendukung lingkungan hidup di kota baru yang kami bangun. 

Konsep apa yang dikembangkan Grup Ciputra di mancanegara? 
Kami mengembangkan konsep integrated development. Di satu kawasan, di kota baru, kita bisa mendapatkan seluruh disiplin properti, residensial, komersial, fasilitas dan pendukungnya. 

Di Hanoi, kami punya tiga sekolah, yaitu United Nation International School, Kinderworld, dan Hanoi Academy School. Saat ini kami sedang membangun mal (Ciputra Hanoi Mall). Kami juga akan membangun hotel, perkantoran, dan rumah sakit akhir tahun 2011. Jadi orang yang tinggal di sana, semua kebutuhan terpenuhi. Di Hanoi, kami mendapatkan SK seluas 300 hektar. Sampai tahun 2011, sekitar 700 rumah dibangun. 

Anda juga aktif sebagai President INTA, asosiasi kota baru dan peremajaan kota internasional. Bagaimana ceritanya Anda bisa aktif dalam asosiasi ini? 
Ini berawal ketika saya mendapat tugas dari Pak Ci untuk memegang proyek kota baru BSD. Waktu itu saya ingin belajar soal kota baru. Saya datang ke Kongres INTA tahun 1986 saat akan membuat masterplan BSD. Waktu itu pengalaman membangun kota baru masih kurang. Jadi untuk membuat masterplan, saya mencari asosiasi kota baru, yang bisa membuat saya belajar. Waktu dibentuk, nama asosiasi ini adalah International New Town yang disingkat sebagai INTA. Tapi dalam perkembangannya, yang dibahas asosiasi ini bukan hanya kota baru, tetapi juga urban renewal (peremajaan kota) dan urban development (pembangunan kota). Logo dan singkatan tidak diganti, tetap INTA. 

INTA didirikan tahun 1974 di Paris, Perancis. Kongres digelar setiap tahun, biasanya bulan Oktober-November. Tahun ini digelar di Lyon, Perancis. Lima puluh persen anggota INTA adalah lembaga pemerintah. 

Saya adalah Presiden pertama dari Asia. Waktu terpilih pertama kali tahun 2007, muncul perdebatan di board, apakah apakah saya tepat menjadi presiden karena saya orang swasta. Presiden INTA sebelumhya Menteri Perumahan Rakyat Maroko. Sebelumnya Wakil Walikota Lyon di Perancis. Saya terpilih sebagai Presiden INTA karena saya memang menangani kota-kota baru di Vietnam, Kamboja, India, dan China. Pada saat terpilih, saya juga masih anggota DPR. 

Tahun 2010-2013, saya terpilih lagi sebagai Presiden INTA. 

Apa tugas Anda sebagai Presiden INTA? 
Tugas Presiden INTA adalah membangun networking dan sharing information. Kami mengadakan seminar, diskusi panel, dan kursus-kursus. Belum lama ini, INTA diminta oleh Pemerintah Kota Fukuoka untuk mereview CBD mereka. Lalu INTA mengirim 10 orang panelis ahli masterplan. Tugas para panelis ini membuat studi, bertemu dengan NGO, dan pakar di sana, membuat proposal. Pemerintah Fukuoka memberi fee kepada INTA. 

INTA juga diundang negara kepulauan bagaimana menjadikan negara itu pulau wisata dunia. Polandia juga minta INTA mereview kota pelabuhan Gdanks. Ada permintaan membangun high-rise building sehingga pemerintah pusat turun tangan. Dan pemerintah pusat minta INTA me-review masterplan. Jadi ada kebutuhan kota-kota di dunia, yang minta kita melakukan studi, mereview kebutuhan, sehingga kita diminta melakukan kegiatan di sana. Ada kota di selatan Paris, pemerintah kotanya sudah tiga kali memanggil INTA me-review masterplan, setiap 10 tahun sekali. 

Jadi INTA adalah wadah yang betul-betul yang bisa digunakan anggota untuk kebutuhan mereka dalam urban planning. Anggotanya pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusaahan daerah, perusahaan swasta, akademisi, individu, stakeholdes kota. 

Anggota dari Indonesia tidak banyak. Antara lain pengembang Ancol, Pondok Indah, BSD, Lippo, Ciputra. Dari pemerintah pusat, Indonesia diwakili Bappenas. 

Wah, Anda dipercaya menjadi Presiden INTA sampai dua periode. Apa rahasianya? 
Saya selalu mencoba merespon kebutuhan anggota. Asosiasi ini sifatnya memberi servis, memenuhi kebutuhan anggota. Jadi di mana pun, akan kami datangi. Kalau ada pemerintah kota yang butuh panelis, langsung kami kirim. Sampai ke Afrika, ada negara kecil pun, jika ada kebutuhan, tetap dilayani. Perhatian kepada anggota ini membuat salah satu menteri di Afrika, langsung mendukung saya menjadi Presiden. Demikian halnya pemerintah kota di Taiwan. Mereka lihat kongres di Kuala Lumpur dan di Taiwan sukses. Jadi peran Asia dalam INTA sangat besar. Saya orangnya aktif dan responsif. 

Mereka butuh panelis dan seminar, kami kirim dan kami adakan. Ini respon yang dihargai. Perancis minta summer course. Tahun ini Portugal minta. Jadi anggota merasa didengar, dihargai, dan bermanfaat. INTA punya 40-an pakar dari berbagai bidang ilmu dan dari berbagai negara. 

Kabarnya Grup Ciputra akan membangun kota baru di Polandia? 
Waktu INTA diminta me-review masterplan kota Gdanks, saya bertemu menteri dan beberapa walikota. Di situlah ada walikota salah satu kota yang minta Grup Ciputra membangun di sana. Sampai sekarang kami sedang menjajaki peluang ini. Kalau ada kesempatan, mengapa tidak? Perkembangan terakhir sampai April 2011, Grup Ciputra masih melihat skim yang tepat. Peraturan perizinan di negara-negara Eropa berbeda dengan di Asia, di Indonesia. Jadi kami memilih skim yang paling tepat. Kami tidak boleh coba-coba. 

Bagaimana Anda mempersiapkan anak-anak Anda sebagai generasi ketiga keluarga Ciputra hingga setangguh Pak Ci dan generasi kedua? 
Ketiga anak saya kini sudah lulus kuliah. Putri pertama, Anindya (27) lulusan hospitality management di Swiss, saat ini sudah membantu proyek CitraGarden Jakarta dan CitraGarden City di Palembang, putri kedua Lalitya (26) yang mendalami business development, kini bekerja di CitraGarden Jakarta, sedangkan Nararya (25) sibuk mengerjakan proyek kota baru di Shenyang, China. Anak keempat, Aditya (21) masih kuliah di Imperial College London. Ini sekolah tertua di dunia, engineering nomor satu. 

Kami didik mereka, termasuk ajaran-ajaran moral juga. Tentunya tidak terlepas dari bagaimana perjalanan hidup kami selama ini. Mereka tak pernah kami manjakan. Untuk melanjutkan pendidikan, mereka berjuang sendiri untuk bisa masuk sekolah yang baik. Saya yakin mereka lebih baik dari saya, bekal pendidikan mereka lebih baik dari saya, dan reputasi sekolah mereka lebih baik dari sekolah saya. Tapi untuk lebih baik dari Pak Ci, nggaklah karena Pak Ci unik, tak ada duanya. 

Anindya belajar di Swiss, masuk ke sekolah swasta terbaik di sana. Lalitya masuk sekolah di Boston, Amerika, di mana lulusannya termasuk Hillary Clinton, Madeline Albright. Dua anak saya lainnya dua-duanya dari Imperial College. Tentu hasilnya harus lebih baik. Tantangan anak-anak lebih besar dari tantangan masa saya. 

Generasi ketiga keluarga Ciputra pada awalnya harus ke proyek-proyek karena mereka harus mengerti apa saja yag dikerjakan, untuk siklus proyek. Setelah itu mereka baru nantinya berkonsentarsi di satu bidang. Tapi setidaknya seakrang mereka harus mengerti dan memahami marketing itu seperti apa. Semua harus mereka dalami, all around. Jika itu semua sudah dipahami, mereka akan mampu membuat keputusan strategis. Karena itulah, setiap anak memgawali bekerja di business development, sehingga mereka bisa mengenali semua aspek di perusahaan. Mereka harus pernah mengalami di semua bagian. 

Anak lelaki saya pernah di lapangan, mengawasi bangunan proyek, pembebasan tanah, sebelum ke Shenyang, China. Sehingga ia tahu semua aspek. Kebetulan proyek ini baru sehingga lebih mudah untuk menerapkan apa yang mereka pelajari. Kebetulan waktu Anindya kembali, kami baru membangun proyek CitraGrand City di Palembang. Anak-anak perlu mengetahui bagian tiap bagian. 

Anda pernah menaklukkan hati Jack Nicklaus sehingga ia memutuskan mau mendesain lapangan golf di BSD. Bagaimana ceritanya? 
Waktu mau membangun BSD, lokasinya sangat jauh. Membangun kota baru BSD skala besar, saya pikir harus membangun lapangan golf lebih dulu. Pada saat itu lapangan golf Pondok Indah sudah ada, tapi lapangan golf Pantai Indah Kapuk sudah didesain dan belum dibangun. Jadi harus cari yang lebih hebat. Waktu mau membangun lapangan golf di BSD, saya tulis surat ke Jack Nickaus tahun 1987. 

Tapi waktu itu, Jack Nicklaus menolak dengan alasan terlalu jauh. Saya tak bisa terima begitu saja. Saya pergi ke kotanya di Palm Beach tanpa janji. Waktu itu saya sudah punya tiga anak masih balita. Istri saya Rina mau ikut. Dia dan anak-anak ke Hawaii, sedangkan saya berusaha menemui Jack Nickaus. Saya menyewa mobil, menyetir sendiri dan bertemu Vice President Marketing. Saya bawa berkas perencanaan BSD yang disusun konsultan Jepang. Kami berdiskusi satu jam lebih. Saya sudah bertemu Senior Vice President, tapi Jack masih nggak mau mendesain lapangan golf di Indonesia. Jack baru mau di Jepang. Katanya, Indonesia terlalu jauh. Tapi saya tidak patah arang. Saya terus berusaha membuat janji bertemu langsung dengan Jack. Lalu apa kerjaan saya dalam saat menunggu? Saya main golf sendirian. 

Hari ketiga, barulah saya bisa bertemu langsung Jack Nicklaus. Saya terkesan, ternyata Jack sangat humble. Saya jelaskan rencana kota baru BSD. Tak sampai setengah jam, dia bilang yes. Dari pengalaman ini, saya yakin kita tidak boleh cepat putus asa. Kepada staf saya, selalu saya tegaskan untuk jangan cepat putus asa. kalau ditolak, coba dulu lagi, mungkin dia belum tahun rencana dan tujuan kita. 

Yang bikin saya kaget setelah bertemu Jack Nicklaus ketika tahu fee-nya mahal sekali. Ini di luar dugaan. Waduh, kalau saya kembali, nggak enak. Saya minta janji dengan Arnold Palmer, mereka mau. Fee-nya separuh dari Jack Nicklaus. Saya juga bertemu Johnny Miller di LA. Tapi akhirnya saya simpulkan harus tetap dengan Jack Nicklaus. 

Setelah menjemput istri dan tiga anak balita di Hawaii, kami kembali ke Jakarta. Saya cuci cetak film, lalu mempresentasikan ke pertemuan pemegang saham lainnya, kepada Anthony Salim dan Eka Tjipta Widjaja. Akhirnya mereka setuju Jack Nicklaus mendesain lapangan golf BSD. Bulan September saya ketemu Jack, bulan Desember saya bersama Pak Ci menemui Jack lagi. Kerja sama pun langsung ditandatangani. 

Pelajaran yang saya dapatkan, jangan langsung menerima tolakan sebelum kita yakin mengapa dia menolak. Saya yakin Jack Nicklaus belum tahu. Setelah mendesain lapangan golf BSD, Jack mendapat banyak proyek lainnya, Emeralda, Taman Dayu, Batam, Bintan, Medan. 

Bagi saya, merancang kota baru Bumi Serpong Damai sangat berkesan karena diberi kesempatan oleh pemagang saham dari awal. PT belum terbentuk, saya mulai sebagai empat orang staf. Saua menyewa gedung di Gedung Jaya seluas 60 m2 yang dibagi dua, ruang saya dan ruang rapat, lalu ruang sekretaris, pembukan, kasir, dan office boy. Saham Ciputra hampir sama dengan saham Salim dan Sinarmas. Tapi saat terjadi krisis ekonomi 1997, masalah ini bukan lagi bukan masalah BSD, tapi urusan pemegang saham. Yah, risiko bisnislah.

Reformasi Keuangan Global

Sebuah proposal berani untuk mereformasi sistem keuangan global berasal dari sumber yang tak terduga: Gereja Katolik. Sebagai zona euro terhuyung di ambang kekacauan ekonomi, Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian - tubuh dari Kuria Romawi yang memberikan nasihat Paus pada ekonomi keadilan, perdamaian, dan hak asasi manusia - menerbitkan "Menuju Reformasi Keuangan dan Moneter Internasional Sistem dalam Konteks Otoritas Publik Global "(lebih sederhana disebut" Catatan "). Tujuannya Dewan dalam penerbitan itu jelas: Gereja ingin menarik perhatian para pemimpin dunia saat mereka berkumpul untuk membahas gejolak yang sedang berlangsung di pasar keuangan pada KTT G-20 di Cannes dan untuk menambahkan suara untuk mereka yang berdebat untuk kontrol modal (seperti sebagai "pajak Tobin") untuk mencegah spekulasi keuangan internasional. Kemudian, awal bulan lalu, selama pidatonya untuk Tahun Baru untuk diplomat terakreditasi ke Takhta Suci, Paus Benediktus XVI memperkuat panggilan untuk etika dalam ekonomi global.Kata-kata Paus bergema panggilan mendesak Catatan untuk baru, pemikiran bahkan radikal tentang aturan dan lembaga yang mengatur ekonomi global.

Catatan berpendapat bahwa akar dari kesengsaraan ekonomi saat ini adalah pertumbuhan kredit yang berlebihan dan likuiditas moneter dalam beberapa dekade terakhir, yang, pada gilirannya, meningkat gelembung aset dan memicu suksesi utang dan krisis kepercayaan. Hal ini juga berpendapat bahwa kurangnya kontrol pada peraturan keuangan internasional memperburuk masalah - dengan kata lain, bahwa laju globalisasi ekonomi telah keluar dari kontrol. Ketidakstabilan yang dihasilkan dan kesenjangan ekonomi berarti bahwa dunia sekarang membutuhkan "sebuah sistem pemerintahan bagi perekonomian dan keuangan internasional." Setelah para pemimpin dunia mengakui, Dewan berpendapat, bahwa saling ketergantungan global meningkat memaksa negara untuk bergerak di luar perintah, Westphalia, atau negara berbasis internasional, mereka akan lebih siap untuk menyerahkan kedaulatan mereka sendiri dalam kepentingan kesejahteraan umum kemanusiaan global.

Mengingat sejarah Gereja dan ajaran sosialnya, seruannya bagi otoritas supranasional adalah tidak mengejutkan. Gereja telah lama dilihat kedaulatan negara-bangsa sebagai tantangan dengan otonominya. Secara historis, operasi itu jauh lebih nyaman dalam pengaturan lebih internasionalisasi cairan, seperti selama Kekaisaran Romawi Suci atau Kristen Abad Pertengahan. Kehancuran Perang Dunia II yakin umat Katolik senior Eropa bahwa kekuatan negara-bangsa harus dijinakkan. Hal ini membantu untuk menjelaskan mengapa Gereja adalah seperti seorang penganjur unifikasi Eropa.Memang, umat Katolik terkemuka seperti Perdana Menteri Perancis mantan Robert Schuman adalah pemain sentral dalam proses digerakkan oleh Perjanjian Roma 1957.Enam tahun kemudian, Paus Yohanes XXIII mendukung gagasan tentang otoritas dunia, panggilan kembali dalam semua ajaran berikutnya paus 'sosial. Gereja telah menghindari mengidentifikasi seperti tubuh yang khusus dengan PBB. Dan cenderung untuk menggambarkan seperti fungsi otoritas dalam hal yang sangat umum seperti "koordinasi." Tetapi logika adalah bahwa jika kondisi yang memfasilitasi manusia berkembang semakin melampaui batas nasional, klaim negara modern untuk menjadi otoritas politik tertinggi yang mampu mengkoordinasikan kondisi seperti itu adalah tidak beralasan. Secara praktis, beberapa pejabat Gereja menghitung bahwa otoritas dunia akan lebih mudah bagi Gereja untuk menavigasi dari tatanan global berdaulat negara-bangsa.

Namun otoritas dunia bisa mengadu kepentingan ekonomi umat Katolik di negara maju terhadap mereka di negara berkembang, menciptakan tantangan untuk bagaimana Gereja menyajikan ajaran-ajarannya tentang isu-isu ekonomi untuk umat Katolik di seluruh dunia. Banyak negara di seluruh Amerika Latin, Afrika, dan Asia berada di tempat ekonomi dan geopolitik secara fundamental berbeda dengan Uni Eropa yang sedang sakit. Gereja dengan demikian harus memperdalam apresiasinya tentang bagaimana operasi global faktor ekonomi seperti keunggulan komparatif, insentif, dan pengorbanan memiliki dampak yang berbeda pada umat Katolik hidup dalam keadaan ekonomi yang sangat berbeda. Tapi ini juga memiliki implikasi untuk posisi Gereja mengenai fungsi ekonomi akan ditanggung oleh otoritas dunia. Tanggung jawab demikian, misalnya, terutama menyangkut bisa mempromosikan integrasi ekonomi yang lebih besar melalui menghapus hambatan untuk berdagang. Ini, bagaimanapun, akan bertentangan dengan tema Catatan bahwa fungsi ekonomi suatu otoritas dunia harus difokuskan pada mengamankan kontrol yang lebih besar langkah perubahan melalui peraturan internasional bahwa, jika diterapkan, akan secara signifikan menghambat pergerakan bebas manusia, barang, dan modal .

Sementara kepemimpinan senior Gereja adalah tidak proporsional Eropa dalam komposisi, pusat Gereja Katolik dalam jumlah baku telah bergeser ke negara berkembang. Menurut statistik yang terkandung pada tahun 2011 Vatikan Annuario Pontificio, Eropa Katolik sekarang account untuk hanya 24 persen dari 1,18 miliar di dunia Katolik. Pada tahun 1948, setara sekitar 49 persen. Saat ini, hampir 50 persen dari umat Katolik hidup di Amerika, dan kebanyakan dari mereka di sebelah selatan Rio Grande. Secara demografis, Gereja Eropa telah mengalami stagnasi selama tiga dekade. Tapi ekspansinya di Afrika, Asia, dan Amerika Latin pada periode waktu yang sama telah mengejutkan. Antara 2005 dan 2009 saja, jumlah umat Katolik Afrika tumbuh dari 135 juta menjadi sekitar 158 juta.